Indonesia berada pada Posisi ke Tiga dalam Praktek Politik Uang
2 mins read

Indonesia berada pada Posisi ke Tiga dalam Praktek Politik Uang

BimtekDesa –  Burhanuddin Muhtadi, Guru Besar Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah di Jakarta, mengatakan Indonesia saat ini menjadi salah satu negara di dunia dengan praktik politik uang terburuk pada pemilu.

Selanjutnya Burhanudin mengatakan, Indonesia hanya kalah dari dua negara Afrika, yakni Uganda dan Benin. Pernyataan tersebut disampaikan Burhandin saat kuliah pengukuhannya sebagai Guru Besar di UIN Jakarta, Rabu (29/11).

“Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat politik uang tertinggi ketiga di dunia setelah Uganda dan Benin,” ujarnya.

Baca juga: Dana Desa di Kucurkan Rp335T tak sesuai Hasil yang diharapkan

Indonesia berada pada Posisi ke Tiga dalam Praktek Politik Uang
Indonesia berada pada Posisi ke Tiga dalam Praktek Politik Uang

Burhanuddin mengatakan, data tersebut diambil dari penelitian yang dilakukannya pada dua pemilu presiden terakhir pada 2014 dan 2019. Akibatnya, sekitar 33% dari 187 juta pemilih Daftar Pemilih Tetap (DPT) atau 62 juta pemilih terlibat dalam praktik jual beli suara.

Data itu pun ia ungkapkan dalam kajian ilmiahnya bertajuk ‘Votes for Sale: Klientelisme, Defisit Demokrasi, dan Institusi’  yang dirilis saat parade pengukuhannya sebagai guru besar ilmu politik di Universitas Jakarta.

Baca juga: Seperti ini Cara Daftar Online Pendamping Lokal Desa (PLD) Tahun 2023

Ia menambahkan, sasaran politik terutama ditujukan kepada simpatisan partai yang angkanya mencapai 15%. Sedangkan 85% sisanya tidak menjadi sasaran praktik politik uang karena dianggap tidak dapat diandalkan. Mereka adalah kelompok pemilih mengambang atau swing voter.

“Mereka enggan menyasar pemilih mengambang karena mereka berpikir akan menerima paket yang ditawarkan tapi tidak yakin dengan pilihannya,” kata Burhandin.

Burhandin mengatakan, politik uang hanya menyumbang 10 persen suara. Namun angka tersebut dinilai cukup efektif, terutama dalam konteks pemilu legislatif dan persaingan dengan calon lain dari partai yang sama.

Baca juga: Contoh Soal dan Kunci Jawaban untuk Tes Pendamping Lokal Desa (PLD) Tahun 2023

“Angka 10 persen bisa menjadi faktor penentu kemenangan. Rata-rata margin kemenangan untuk mengalahkan rivalnya hanya 1,6 persen. Jadi, [jumlah 10 persen] bisa membuat perbedaan caleg yang menang dan yang kalah,” kata dia.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/