Alasan Mengapa Bansos tak tepat Sasaran menurut Risma
3 mins read

Alasan Mengapa Bansos tak tepat Sasaran menurut Risma

BimtekDesa – Tri Rismaharini selaku Menteri Sosial (Mensos) mengungkapkan salah satu alasan tentang adanya terjadi salah sasaran bagi penerima bantuan sosial atau bansos. Selanjutnya Risma mengungkapkan adanya temuan dari seorang TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang notabene memiliki keuangan yang cukup, karena tidak pandai mengelolanya, akhirnya ikut dalam permintaan Bansos.

Ini disampaikan ketika  melakukan kunjunganke Pulau Mapia, Kabupaten Supiori, Papua, Hari Selasa tanggal 12 September 2023. Awalnya dia berbicara soal adanya salah satu peserta Pahlawan Ekonomi Nusantara (PENA), program Kemensos, yang konsisten hingga berhasil keluar dari kemiskinan.

Baca juga: Penghargaan dari Kemendes untuk 5222 Desa Mandiri

Alasan Mengapa Bansos tak tepat Sasaran menurut Risma

“Cuma kan orang kita ini kadang udah segitu, puas, berhenti.. Nah ini yang kita pacu terus, dorong, supaya mereka bisa ya lebih baik ya. Soalnya aku pengalaman di Surabaya itu mereka bukan jadi jutawan, miliarder udah. Itu yang sebenarnya kita dorong terus, cuma kan itu harus terus dan itu konsisten gitu, makanya kita adakan setiap Sabtu, Minggu pertemuan,” kata Risma.

Baca juga: Masa Jabatan Kepala Desa (Kades) 9 Tahun, Berapa Gaji, Tunjangan dan Fasilitasnya?

“Kalau di Surabaya itu ada, saya bisa ketemu langsung mereka, kalau ini kan nggak bisa se-Indonesia, tapi pesertanya satu kali itu bisa di atas seribu peserta PENA TV. Jadi nanti setelah training dia minta apa itu setelah itu ada Bazaar, mereka bisa menjual produknya, minimal dilihat seribu orang kan peserta itu, belum yang lain itu ada lewat Facebook kayak gitu-gitu,” sambungnya.

Baca juga: BRI melalui Program Desa Brilian Tahun 2023 Bacth 2 diminati  banyak Desa

Risma mengatakan pihaknya memang mendorong masyarakat untuk sama-sama memajukan ekonomi di wilayahnya masing-masing. Dia juga menyebut pihaknya tengah bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melatih pengelolaan uang.

“Jadi ini cara kita juga untuk menjual, dan persistennya mereka, karena persistennya itu yang susah, mereka udah puas, dulu ndak punya uang, sekarang punya uang, udah dikit aja udah kemudian teledor, nah itu yang kita jaga,” katanya.

“Supaya mereka tetap konsisten, sampai suatu saat dia pintar udah bisa kita lepas. Tapi gitu aja kita juga ajari. Nah yang kita sekarang saya minta ajarkan itu kita lagi kerja sama dengan OJK karena literasi keuangan itu yang sekarang kita ajari. Dan kemarin banyak sekali yang tertarik untuk belajar tentang pengelolaan keuangan, karena ini sangat-sangat berpengaruh,” tambahnya.

Lebih lanjut, dia mencontohkan salah satu hal yang menjadi pemicu bansos tak tepat sasaran. Yakni seorang TKI yang awalnya memiliki banyak uang dan tak terdaftar bansos, lalu tak pandai mengelola uang sehingga berakhir meminta bansos.

“Jadi contohnya misalkan, yang aku kemarin ngomong di KPK itu, banyak orang rumahnya bagus-bagus, tapi dia minta bansos, kenapa? Karena saat mereka kerja misalkan jadi TKI, wah mereka punya uang, mereka bangun uangnya habis untuk rumah, dia tidak mempersiapkan masa depannya, nah sementara rumahnya ada di tengah hutan, di desa, ya nggak ada yang mau beli,” katanya.

“Akhirnya apa? Kemudian mereka minta bansos. Nah ini yang kita jaga. Jadi kayak gitu,” sambungnya.